Translate

Kamis, 24 Januari 2013

Azalea Azure: Teriakanku

Azalea Azure: Teriakanku: Teriakanku pada hari ini 23 Januari 2013 Ya aku seperti ini, Kelihatannya tegar dan kuat seperti karang di lautan. Terlalu banyak ...

Teriakanku


Teriakanku pada hari ini 24 Januari 2013


Ya aku seperti ini,
Kelihatannya tegar dan kuat seperti karang di lautan.
Terlalu banyak hal yang aku pertanyakan dalam hidup ini,
terkesan aku ini suka sekali untuk protes ini itu,
tuntut ini itu,
tentang ini itu dan lainnya kelakuan-kelakuanku yang setiap kali aku pertanyakan apakah itu benar setelah melakukannya.
Selalu cerewet menanyakan “apakah ini benar… apakah tindakan ini benar.. Apakah aku terlalu emosional dalam menyampaikannya.. Apakah ini perlu untuk disampaikan…”
Aku selalu diliputi kegalauan tentang ini
Akhirnya pada malam ini aku menemukan sosok yang benar-benar aku rasa memandang dari sisi yang selama ini belum aku temukan orang yang berpendapat tentang ini. Dia adik kelasku..

 “kakak  itu orangnya keras dan maunya ada perubahan itu dengan cepat dan sayangnya kakak itu sendirian , kesannya jika kakak bicara hanya untuk diri kakak dan tidak ada yang mendukung”

Aku tertegun dan menerawang ke lorong waktu ingatanku...

ketika di sekolah dasar kelas 2, aku lah orang yang pernah dimusuhi teman-teman satu kelas, sampai-sampai aku berteman dengan kakak kelas 6.
Ketika aku MTs, aku pernah diserang oleh sebuah genk. Mereka menyerbu aku yang hanya seorang diri. tapi aku bisa mengatasi mereka dengan modal mulut.
Ketika SMA, aku sudah sangat terbiasa sendiri, sampai-sampai Cuma waktu kelas 7 aku punya teman sebangku. Selanjutnya seorang diri dan jika diingat lagi saya itu duduk selalu di depan tapi satu banjar di belakang itu semuanya anak laki-laki.

ketika kuliah, tingkat pertama, aku sempat terang-terangan membela teman-teman sekelasku yang dipermasalahkan oleh ketua angkatan, aku waktu itu juga sendirian tidak ada pembelaan, tidak ada dukungan, mereka hanya diam bungkam. sekali lagi dengan modal mulut.
Aku pernah berfikir ada apa dengan diriku ?

Aku pun menemukan jawabannya pada sebuah tulisan yang mengatakan orang idealis itu banyak musuhnya / tidak disenangi orang.
mengapa semua hanya bungkam?

katakanlah kebenaran itu walau apapun tantagannya!

beberapa hal yang tertulis di bawah inilah yang membuat aku tetap betahan :

Sikap keras yang pada tempatnya adalah disyariatkan oleh Alloh ta’ala.
“Hai Nabi, perangilah orang-orang kafir dan orang-orang munafik dan bersikap keraslah terhadap mereka. Tempat mereka adalah Jahannam dan itu adalah seburuk-buruknya tempat kembali”. (QS. At Tahrim: 9)
Termasuk dari sikap keras Rosululloh -shollallohu 'alaihi wasallam- terhadap orang berilmu yang melakukan kesalahan /yang melakukan pelanggaran.
Dan sikap lembut adalah kepada orang yang belum paham Islam, bukan kepada orang-orang yang tidak mau mendapatkan hidayah.

Islam asing pada permulaannya
Islam kembali asing di zaman kemudiannya
Beruntunglah mereka yang menjadi asing

Kita harus menjadi sesuatu sebelum mengubah sesuatu!
Tidak boleh tergesa-gesa semua ada waktu yang tepat
J

Minggu, 17 Juni 2012

JENUH

warning!
Karena ini copy timeline @THEthaa jadi untuk kebaikan, bacalah dari bagian akhir posting ini dulu, baru kemudian ke bagian awal :D. thanks.
 

masyithah tetha ‏@THEthaa

@jestiara
ojceah... sometimes they'll make you
mature #ajaAjaFighting#jenuh :D



 
masyithah tetha ‏@THEthaa


berdoalah pada Khalid-mu
#jenuh



 
masyithah tetha ‏@THEthaa


beradalah dalam lingkungan yang memotivasi anda,

tinggalkan lingkungan yg membuat anda lupa akan
tujuan anda #jenuh


 
masyithah tetha ‏@THEthaa


usahakan selektif dalam memilih sosok idola yg

memotivasi anda#jenuh



 
masyithah tetha ‏@THEthaa


berdisiplinlah dgn jadwal-jadwal anda
#jenuh



 
masyithah tetha ‏@THEthaa

setelah itu susun jadwal kegiatan yg variatif dan harus

dinamis. #jenuh


 
masyithah tetha ‏@THEthaa

kunci kelur utama adalah kenali diri anda
#jenuh


 
masyithah tetha ‏@THEthaa

bagaimana keluar dari kejenuhan ?
#jenuh

 
masyithah tetha ‏@THEthaa


berada di lingkungan ''sprinter'' secara tidak langsung

akan membuat anda hobi "jogging" #jenuh


masyithah tetha ‏@THEthaa


kadang bukan aktivitas yg bikin jenuh, tapi lingkungan

anda #jenuh



 
masyithah tetha ‏@THEthaa


dulu mati-matian untuk dapetin FK, sekarang malah

ditelantarin -__-#jenuh


Jumat, 25 Mei 2012

SESUATU


kita memang hidup dalam sekat2
pengotak2an..
pelabelan...
dan pada saat label kita di cabut kita bukan siapa2 lagi.
..................
tapi kadang dalam hidup kita tidak dihadapkan pada pilihan. dalam hidup tak ada jaminan buat bahagia.
dalam hidup ga  ada jaminan untuk terus bahagia ga ada kepastian buat apapun setiap orang bisa terlempar keluar dari kotak kesenyamannya... secara tiba-tiba...
……………
persetan dengan pengkotak2kan sekat2 yang berdiri tegak diantara manusia  toh hidup ini dunia main orang dewasa kita pura2 tua untuk ngelewatinnya ato pura2 jadi anak2 untuk  ngehindarinnya...
..........................

 otak suka nyaring mana yang harus di ingat mana yang harus dilupain.

embun ga perlu warna buat daun jatuh cinta…sama kaya aku ga punya alasan buat jatuh cinta sama kamu.
kadang kematian bisa jadi pilihan. pilihan terakhir bisa jadi kematian.
cinta bukan masalah memiliki, cinta adalah berani untuk pergi atau ditinggal pergi.
 ………………………………………………………………………………………………………
kata2 di aTas di kutip dari film MALAIKAT TANPA SAYAP.

Kamis, 12 April 2012

NOVEL TAHUN INI


Masyithah
Padang, 5 April 2012
Catatan Harian Calon Dokter
“Jalan Menuju Dokter Muslim”
Setelah membaca buku ini keinginanku menjadi seoarang penulis semakin kuat, ternyata benar bahwa partisipasi itu memotivasi. Saya melihat partisipsi mahasiswa kedokteran (calon dokter) dalam bidang  sastra seperti dalam buku ini sangat menarik. Apalagi esensi yang ada dalam setiap cerita sangat bermanfaat bagi kita khususnya calon dokter dalam membenahi niat dan menuju dokter muslim.
Disini saya hanya ingin mengutip beberapa kalimat dari setiap dua puluh cerita dalam buku ini.
Untuk empat cerita pertama bertemakan:
 “Allah Memilih Jalan Ini”
1.         Mimpi Yang Dipaksakan Berbuah Kesadaran (Emy Kusmiawaty)

Sebaik-baiknya manusia adalah yang paling besar manfaatnya.
Inilah dasar ia menguatkan tekatnya  menjadi doktrer.
Dan kata-kata motivasi dari seorang ayah tercinta “yang namanya mutiara, meskipun di tempat berlumpur atau gundukan sampah, dia tetaplah mutiara. Bukan yang lain.” Seseorang yang  baik tidak selalu beradadi tempat baik. Allah juga mengirim orang orang baik di tempat yang dianggap “buruk” oleh sebahagian manusia.  Padahal, hanya  allah yang tahu baik buruknya sesuatu. Manusia terlalu subjektif memberikan penilain.
.
Kata-kata diatas mengantarkan aku kembali pada kenangan ‘pahit’ dua tahun yang lalu tentang kegagalanku masuk ke PTN dengan jurusan pendidikan dokter. Ya … cerita dia atas juga mengantarkan aku kembali pada cita-citaku dan niat awalku untuk masuk kedokteran.
Semoga di jalan ini, jalan yang mungkin dianggap buruk oleh aku sendiri dulu adalah buruk yang akan membawaku pada-Nya. Amin.

2.       Dia Ingin Saya Menjadi Dokter ? (Anggea Rachmiawaty)

“mungkin kedokteran bukan  yang saya minati, tapi juga bukan sesuatu yang saya hindari. Mungkin bagi saya ilmu kedokteran itu nice to know, bikan nice to share. Padahal jika sudah berilmu, seharusnya kita berbagi, bukan?”
Menjadi dokter adalah pilihan. Dia telah mengizinkan saya memilih. Pilihan menjadi dokter itu bukan suatu ketidak sengajaan . butuh proses di setiap menjalaninya. Pilihan kita untuk menjalani proses itulah yang akan membentuk dokter seperti apa kita kelak.
“mengapa Dia ingin saya menjadi dokter, ya ?” yakinlah, menjadi dokter adalah pilihan dan nikmat dari Allah SWT.”

3.         Dari Balik Dinding Pesantren (Pobby Karmendra)

Memaknai kehidupan di wisma memang sangat penuh warna. Tentunya ukhuwah sangat menonjol disini, begitu cerita dalam tulisannya.
“saat kau kembali ke kampusmu, berceritalah tentang apa saja yang kau lihat di sini. Meski banyak yang harus dibenahi, kami telah memulai cerita. Dari sini. Dari balik dinding pesantren”

4.         Jalan Cinta-Mu (Rafky Yunuar)

Disini di ceritakan… sebuah amanah yang menggiringnya ke jalan-nya.
“Aku sering tersenyum melihat masa laluku. Aku merasa masa itu sungguh lucu. Terjawab sudah kegaulaku, lamunanku dan kesedihan ytang merasuk bersama kedendirianku. Dakwah telah meretas kegelapanku dengan cahaya dari-nya.”
“dakwah tak sekedar memberikanku kekuatan dalam beragama tapi juga memperkuat mental dan nuraniku. Dakwah tak menghalangi kegiatan akademis. Dakwah justru memberikanku napas dan cinta yang baru. Bahkan dakwah mampu mewujudkan kesempurnaan profesi dokter yang ingin kucapai.”

 to be continued....

Rabu, 30 November 2011

Jilbab Menurut Islam, Kristen, Yahudi, Mitos dan Realita


Jilbab Menurut Islam, Kristen, Yahudi, Mitos dan Realita
Oleh : Prof. Sherif Abdel Azeem


          Marilah kita buka satu persoalan yang di negara-negara Barat dianggap sebagai simbol dari penindasan dan perbudakan wanita, yaitu jilbab atau tudung kepala. Apakah betul tidak terdapat pembahasan mengenai jilbab di dalam tradisi Jahudi-Kristen ? Mari kita lihat bukti catatan yang ada. Menurut Rabbi Dr. Menachem M. Brayer, Professor Literatur Injil pada Universitas Yeshiva dalam bukunya, The Jewish woman in Rabbinic Literature, menulis bahwa baju bagi wanita Yahudi saat bepergian keluar rumah yaitu mengenakan penutup kepala yang terkadang bahkan harus menutup hampir seluruh muka dan hanya meninggalkan sebelah mata saja. Beliau disana mengutip pernyataan beberapa Rabbi (pendeta Yahudi) kuno yang terkenal: “Bukanlah layaknya anak-anak perempuan Israel yang berjalan keluar tanpa penutup kepala” dan “Terkutuklah laki-laki yang membiarkan rambut isterinya terlihat,” dan “Wanita yang membiarkan rambutnya terbuka untuk berdandan membawa kemelaratan.”
        
         Hukum Rabbi melarang pemberian berkat dan doa kepada wanita menikah yang tidak menutup kepalanya karena rambut yang tidak tertutup dianggap “telanjang”. Dr. Brayer juga mengatakan bahwa “Selama masa Tannaitic, wanita Yahudi yang tidak menggunakan penutup kepala dianggap penghinaan terhadap kesopanannya. Jika kepalanya tidak tertutup dia bisa dikenai denda sebanyak empat ratus zuzim untuk pelanggaran tersebut.”
Dr. Brayer juga menerangkan bahwa jilbab bagi wanita Yahudi bukanlah selalu sebagai simbol dari kesopanan. Kadang-kadang, jilbab justru menyimbolkan kondisi yang membedakan status dan kemewahan yang dimiliki wanita yang mengenakannya ketimbang ukuran kesopanan. Jilbab atau tudung kepala menandakan martabat dan keagungan seorang wanita bangsawan Yahudi. Jilbab juga diartikan sebagai penjagaan terhadap hak milik suami.

           Jilbab menunjukkan suatu penghormatan dan status sosial dari seorang wanita. Seorang wanita dari golongan bawah mencoba menggunakan jilbab untuk memberikan kesan status yang lebih tinggi. Jilbab merupakan tanda kehormatan. Oleh karena itu di masyarakat Yahudi kuno, pelacur-pelacur tidak diperbolehkan menutup kepalanya. Tetapi pelacur-pelacur sering memakai penutup kepala agar mereka lebih dihormati (S.W.Schneider, 1984, hal 237). Wanita-wanita Yahudi di Eropa melanjutkan menggunakan jilbab sampai abad ke sembilan belas hingga mereka bercampur baur dengan budaya sekuler. Tekanan eksternal dari kehidupan di Eropa pada abad sembilan belas memaksa banyak dari mereka pergi keluar tanpa penutup kepala.

         Beberapa wanita Yahudi kemudian lebih cenderung menggantikan penutup tradisional mereka dengan rambut palsu sebagai bentuk lain dari penutup kepala. Dewasa ini, wanita-wanita Yahudi yang saleh tidak pernah memakai penutup kepala kecuali bila mereka mengunjungi sinagog (gereja Yahudi) (S.W.Schneider, 1984, hal. 238-239). Sementara beberapa dari mereka. seperti sekte Hasidic, masih menggunakan rambut palsu (Alexandra Wright, 19??, hal 128-129).

Bagaimanakah jilbab menurut tradisi Kristen?
Kita sendiri menyaksikan sampai hari ini bahwa para Biarawati Katolik menutup kepalanya yang suruhannya sebetulnya telah ada semenjak empat ratus tahun yang lalu. Tetapi bukan hanya itu, St. Paul (atau Paulus) dalam Perjanjian Baru, I Korintus 11:3-10, membuat pernyataan-pernyataan yang menarik tentang jilbab sebagai berikut: “Tetapi aku mau, supaya kamu mengetahui hal ini, yaitu Kepala dari tiap laki-laki adalah Kristus, kepala dari perempuan adalah laki-laki dan kepala Kristus adalah Allah. Tiap laki-laki yang berdoa atau bernubuat dengan kepala yang bertudung, menghina kepalanya. Tetapi tiap-tiap perempuan yang berdoa atau bernubuat dengan kepala yang tidak bertudung, menghina kepalanya, sebab ia sama dengan perempuan yang dicukur rambutnya. Sebab jika perempuan tidak mau menudungi kepalanya, maka haruslah ia juga mengguting rambutnya. Tetapi jika bagi perempuan adalah penghinaan, bahwa rambutnya digunting atau dicukur, maka haruslah ia menudungi kepalanya. Sebab laki-laki tidak perlu menudungi kepalanya: ia menyinarkan kemuliaan Allah. Tetapi perempuan menyinarkan kemuliaan laki-laki. Sebab laki-laki tidak berasal dari perempuan, tetapi perempuan berasal dari laki-laki. Dan laki-laki tidak diciptakan karena perempuan, tetapi perempuan dicipt akan karena laki-laki. Sebab itu, perempuan harus memakai tanda wibawa di kepalanya oleh karena malaikat”. (I Korintus 11:3-10).

        St. Paul memberikan penalaran tentang wanita yang berjilbab atau berkerudung adalah bahwa jilbab memberikan tanda kekuasaan pada laki-laki, yang merupakan gambaran kebesaran Tuhan, atas wanita yang diciptakan dari dan untuk laki-laki. St. Tertulian di dalam risalahnya “On The Veiling Of Virgins” menulis: “Wanita muda hendaklah engkau mengenakan kerudung saat berada di jalan, demikian pula hendaknya engkau mengenakan di dalam gereja, mengenakannya saat berada di antara orang asing dan mengenakannya juga saat berada di antara saudara laki-lakimu.”

              Di antara hukum-hukum Canon pada Gereja Katolik dewasa ini, ada hukum yang memerintahkan wanita menutup kepalanya di dalam gereja (Clara M Henning, 1974, hal 272). Beberapa golongan Kristen, seperti Amish dan Mennoties contohnya, mereka hingga hari ini tetap mengenakan tutup kepala. Alasan mereka mengenakan tutup kepala, seperti yang dikemukakan pemimpin gerejanya adalah: “Penutup kepala adalah simbol dari kepatuhan wanita kepada laki-laki dan Tuhan,” logika yang sama seperti yang ditulis oleh St. Paul dalam Perjanjian Baru (D. Kraybill, 1960, hal 56).

         Dari semua bukti-bukti di atas, nyata bahwa Islam bukanlah agama yang mengada-adakan dan mewajibkan penutup kepala, tetapi Islam telah mendukung hukum tersebut. Al Qur’an memerintahkan kepada laki-laki dan perempuan yang beriman untuk menahan pandangannya dan menjaga kemaluannya. Juga memerintahkan wanita beriman agar memanjangkan penutup kepalanya sampai menutupi leher dan dadanya.
“Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat….. Katakanlah kepada wanita yang beriman : “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak darinya. Dan hendaklah mereka menutup kain kerudung ke dadanya…” (An Nuur:30,31)

       Di dalam Al Qur’an jelas tertulis bahwa kerudung sangat penting untuk menutup aurat. Mengapa aurat itu penting ? Hal itu dijelaskan dalam Al Qur’an surat Al Ahzab 59: “Hai Nabi katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mu’min: Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka.” Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu.” (Al Ahzab:59)
Pada intinya, kesederhanaan digambarkan untuk melindungi wanita dari gangguan atau mudahnya, kesederhanaan adalah perlindungan.

      Jadi, tujuan utama dari jilbab atau kerudung di dalam Islam adalah perlindungan. Kerudung di dalam Islam tidak sama seperti di dalam tradisi Kristen dimana merupakan tanda bahwa martabat laki-laki berada di atas wanita dan merupakan simbolisasi tunduknya wanita terhadap laki-laki. Kerudung di dalam Islam juga bukan seperti di dalam tradisi Yahudi dimana kerudung merupakan tanda keagungan dan tanda pembeda sebagai wanita bangsawan yang menikah. Kerudung di dalam Islam hanya sebagai tanda kesederhanaan dengan tujuan melindungi wanita, tepatnya semua wanita. Pada falsafah Islam dikenali prinsip bahwa selalu lebih baik menjaga daripada menyesal kemudian. Al Qur’an sangat
memperhatikan wanita dengan menjaga tubuh mereka dan kehormatan mereka atas pernyataan laki-laki yang berani menuduh ketidaksucian seorang wanita, mereka akan mendapat balasan;
“Dan orang-orang yang menuduh wanita-wanita yang baik-baik (berbuat zina) dan mereka tidak mendatangkan empat orang saksi, maka deralah (mereka yang menuduh itu) delapan puluh kali dera, dan janganlah kamu terima kesaksian mereka buat selama-lamanya. Dan mereka itulah orang-orang yang fasik.” (QS. An Nuur 4)
Bandingkan sikap Al Qur’an yang sangat tegas, dengan hukuman yang sangat longgar bagi pemerkosa di dalam Injil:
“If a man find a damsel that is a virgin, which is not betrothed, and there was none to save her. Then the man that lay with her shall give unto the damsel’s father fifty shekels of silver, and she shall be his wife; because he hath humbled her, he may not put her away all his days” (Deut. 22:28-29).
Terjemahannya:
“Jika seorang laki-laki menemui seorang gadis yang tidak dijanjikan untuk dinikahkan kemudian memperkosanya, dia harus membayar sebesar lima puluh shekels perak kepada ayah gadis itu. Laki-laki itu harus menikahi gadis tersebut karena perbuatannya dan dia tidak boleh menceraikannya selama hidupnya” (Ulangan. 22:28-29).

           Patut ditanyakan, siapa yang sebenarnya dihukum dalam hal ini? Orang yang membayar denda karena telah memperkosa ataukah gadis yang dipaksa untuk menikah dengan laki-laki yang memperkosanya dan harus tinggal bersamanya sampai dia mati ? Pertanyaan lainnya: Mana yang lebih melindung seorang wanita sikap tegas Al Qur’an atau sikap kendor moral (lax) daripada Injil ?
      
        Beberapa kalangan, terutama di belahan negara-negara Barat, mungkin cenderung untuk menertawakan bahwa kesederhanaan (modesty) berguna untuk perlindungan. Alasan mereka adalah perlindungan yang terbaik yaitu memperluaskan pendidikan, berperilaku yang sopan, dan pengendalian diri. Kami akan mengatakan: semua itu baik tapi tidak cukup.

        Jika tindakan yang ada dipandang perlindungan yang sudah cukup, lalu mengapa wanita-wanita di Amerika Utara saat ini tidak berani berjalan sendirian di kegelapan atau bahkan cemas melewati tempat parkir yang sepi ?. Jika pendidikan adalah suatu penyelesaian lalu mengapa Universitas Queen yang terkenal pelayanan pendidikannya terpaksa harus mengantar pulang para mahasiswi di dalam kampus ?. Jika pengendalian diri adalah jawabannya, lalu mengapa kasus pelecehan sex di tempat kerja diberitakan di media masa nyaris setiap hari ?. Contohnya, yang tertuduh melakukan pelecehan sex dalam beberapa tahun terakhir: para perwira Angkatan Laut, Manager-manager,
Professor-professor, Senators, Pengadilan Tinggi (Supreme Court Justices), dan bahkan Presiden Amerika Serikat Bill Clinton sendiri !

         Saya tercengang saat saya membaca statistik yang ditulis dalam sebuah pamflet yang dikeluarkan oleh Dean of women’s office di Universitas Queen berikut :
* Di Canada, setiap 6 menit ada seorang wanita yang mengalami pelanggaran sexual.
* 1 dari 3 wanita di Canada akan mengalami pelanggaran sexual pada suatu saat dalam kehidupannya.
* 1 dari 4 wanita berada dalam resiko diperkosa atau usaha pemerkosaan dalam kehidupannya.
* 1 dari 8 wanita akan mengalami pelanggaran sexual saat menjadi mahasiswi unitersitas.
* Sebuah penelitian menemukan bahwa 60% dari mahasiswa laki-laki mengatakan mereka akan berbuat pelanggaran seksual jika mereka yakin mereka tidak ditangkap.
Ada sesuatu yang secara fundamental amat sangat keliru di masyarakat kita ini [negara Barat, penerjemah] Suatu perubahan yang radikal sangat perlu dilakukan di dalam gaya hidup dan budaya kita ini. Budaya hidup sederhana (modesty) teramat sangat dibutuhkan.Sederhana dalam berpakaian, dalam bertutur kata, dan dalam sopan santun berhubungan antara pria dan wanita. Kalau perubahan tidak dilakukan, maka angka-angka statistik yang kelabu di atas akan makin suram dari hari ke hari hingga benar-benar semuanya terjerembab dalam kegelapan. Dan sialnya, penanggung beban masyarakat yang paling berat adalah para wanita.

      Sesungguhnya kita semua menderita sebagaimana Khalil Gibran (sastrawan nasrani dari Libanon, penerjemah) pernah mengatakan: “…for the person who receives the blows is not like the one who counts them.” (Khalil Gibran, 1960, hal 56). Oleh sebab itu, sebuah masyarakat seperti Perancis yang pernah mengusir seorang gadis dari sekolahnya lantaran si gadis menampilkan kesederhaan dengan mengenakan tudung, sesungguhnya hanyalah tindakan yang mencelakakan masyarakat itu sendiri.

       Adalah sebuah ironi maha besar di dalam dunia yang kita tinggali saat ini. Secarik tudung penutup kepala mereka katakan sebagai simbol ‘kesucian’ saat dikenakan oleh seorang biarawati Katolik, padahal dalam ajaran Kristiani hal itu untuk menunjukkan kekuasaan pria. Namun apabila secarik tudung kepala tersebut dikenakan oleh seorang muslimah untuk keperluan melindungi diri, justru dituduh sebagai simbol penindasan pria atas wanita! []

Catatan Redaksi: Artikel berikut adalah salah satu bab dari buku kecil karangan Dr. Sherif Abdel Azeem, seorang professor di Queen University, Ontario, Canada. Judul bukunya (terbitan 1996) adalah Women in Islam versus Women in the Judaeo-Christian Tradition; The Myth and The Reality. Hak Cipta ada pada pengarang dimana beliau mengijinkan untuk penyalinan dan terjemahan sepanjang tidak mengurangi isinya.

Terjemahan
ke bahasa Indonesia dilakukan oleh Ria Amirul. Saat diterjemahkan, naskah asli bisa di-download dari situs http://www.stanford.edu/group/issu.
Sumber: WARITA, EDISI MILLENIUM - TAHUN KE XI, NO 2, FEBRUARI 2000

Angkot


Jilid  1

        Salah satu cerita tentang angkot favoritku adalah jilid ini. Ini kisahku di angkot jurusan gede bage-simpang dago, yang membawaku tiap pagi ke dago.
Pagi itu seperti biasa setelah fardhu subuh aku menyiapkan tas dan sarapan. Setelah sarapan dan sedikit beres-beres aku langsung meluncur keluar komplek. Dengan riang seirama dengan pagi yang cerah. Tiap pagi  aku melewati pos satpam. Dari dalam Pos tersebut selalu mengeluarkan  suara yang sudah tak asing lagi
 “pagi neng...!”
Dan aku balas dengan semangat pagi kepada bapak satpam yang mungkin umurnya sudah hampir 65 tahun itu.
“pagi pak... ”
Wah... Sempat kepikiran. Perasaan bapak ini deh yang paling semangat dari satpam-satpam yang lain. Padahal beliau yang paling senior loh... Salut dah.
Setelah berhasil keluar komplek dan mataku mulai bersiap-siap mencari si pink simpang dago. Sett.. Akhirnya ada...
Penumpangnya belum penuh, “biasanya penuh tumben biasanya jam segini udah penuh”. 06.30.
Perjalanan kali menuju simpang dago biasanya memakan waktu satu jam-an. Sebenarnya bisa di tempuh dengan seperempat dari waktu tadi, kalau tidak macet. Huft.. “Kota besar... Nampaknya bandung sebentar lagi udah kaya jakarta nih,” celotehku dalam hati.
 Karena takut ngantuk aku membaca buku. Tapi kali ini aku terkalahkan oleh kantuk pada setengah perjalanan menuju terget . Maklum tak tidur semalaman karena begadang. Dan beruntungnya aku dapat posisi weenaak. Paling pojok.
 “neng mau kemana”, sopir angkot. Suara itu membangunkanku dari tidur... “bah aku ketiuran”. Sedikit panik dan melihat ke jendela “ pasir impun mang” jawabku cepat dan pasti.
Nah lo... Kok balik pulang?
Sopir angkot pun bingung, ni neng kok minta balik. Trus aku liat lagi ke jendela. “astagfirullah ini sudah di dayang sumbi (sembilan per sepuluh perjalanan) ” dalam hati
“hm...punten mang... Simpang dago ” kataku sambil nyengir. Si mang  cuma bisa senyum melihat jawaban kagetku tadi.
Akhirnya dengan keamanahan si mamang aku sampai di simpang dago. Biasanya angkotnya muter di dayang sumbi alasannya macet, padahal dikit lagi. Harusnya angkotnya ganti nama aja gede bage- dayang sumbi atau gede bage- boromeus,  karena menurunkan penumpang tujuh persepuluh dari perjalanan. Hehehe ini sedikit curhat.
Hm.. Pelajaran moral pada hari itu adalah jangan terlalu memaksakan diri,otak juga butuh  isitirahat. Kalau nga jadi ngehenk kaya tadi ngomongnya nglantur hehe...
Dan harus tetap semangat dan bertanggungjawab menjalani takdir yang diberikan Allah kepada kita. Ikhlas red. Hehe
Sekian dulu ya....
See u at the next trip J