Translate

Minggu, 17 Juni 2012

JENUH

warning!
Karena ini copy timeline @THEthaa jadi untuk kebaikan, bacalah dari bagian akhir posting ini dulu, baru kemudian ke bagian awal :D. thanks.
 

masyithah tetha ‏@THEthaa

@jestiara
ojceah... sometimes they'll make you
mature #ajaAjaFighting#jenuh :D



 
masyithah tetha ‏@THEthaa


berdoalah pada Khalid-mu
#jenuh



 
masyithah tetha ‏@THEthaa


beradalah dalam lingkungan yang memotivasi anda,

tinggalkan lingkungan yg membuat anda lupa akan
tujuan anda #jenuh


 
masyithah tetha ‏@THEthaa


usahakan selektif dalam memilih sosok idola yg

memotivasi anda#jenuh



 
masyithah tetha ‏@THEthaa


berdisiplinlah dgn jadwal-jadwal anda
#jenuh



 
masyithah tetha ‏@THEthaa

setelah itu susun jadwal kegiatan yg variatif dan harus

dinamis. #jenuh


 
masyithah tetha ‏@THEthaa

kunci kelur utama adalah kenali diri anda
#jenuh


 
masyithah tetha ‏@THEthaa

bagaimana keluar dari kejenuhan ?
#jenuh

 
masyithah tetha ‏@THEthaa


berada di lingkungan ''sprinter'' secara tidak langsung

akan membuat anda hobi "jogging" #jenuh


masyithah tetha ‏@THEthaa


kadang bukan aktivitas yg bikin jenuh, tapi lingkungan

anda #jenuh



 
masyithah tetha ‏@THEthaa


dulu mati-matian untuk dapetin FK, sekarang malah

ditelantarin -__-#jenuh


Jumat, 25 Mei 2012

SESUATU


kita memang hidup dalam sekat2
pengotak2an..
pelabelan...
dan pada saat label kita di cabut kita bukan siapa2 lagi.
..................
tapi kadang dalam hidup kita tidak dihadapkan pada pilihan. dalam hidup tak ada jaminan buat bahagia.
dalam hidup ga  ada jaminan untuk terus bahagia ga ada kepastian buat apapun setiap orang bisa terlempar keluar dari kotak kesenyamannya... secara tiba-tiba...
……………
persetan dengan pengkotak2kan sekat2 yang berdiri tegak diantara manusia  toh hidup ini dunia main orang dewasa kita pura2 tua untuk ngelewatinnya ato pura2 jadi anak2 untuk  ngehindarinnya...
..........................

 otak suka nyaring mana yang harus di ingat mana yang harus dilupain.

embun ga perlu warna buat daun jatuh cinta…sama kaya aku ga punya alasan buat jatuh cinta sama kamu.
kadang kematian bisa jadi pilihan. pilihan terakhir bisa jadi kematian.
cinta bukan masalah memiliki, cinta adalah berani untuk pergi atau ditinggal pergi.
 ………………………………………………………………………………………………………
kata2 di aTas di kutip dari film MALAIKAT TANPA SAYAP.

Kamis, 12 April 2012

NOVEL TAHUN INI


Masyithah
Padang, 5 April 2012
Catatan Harian Calon Dokter
“Jalan Menuju Dokter Muslim”
Setelah membaca buku ini keinginanku menjadi seoarang penulis semakin kuat, ternyata benar bahwa partisipasi itu memotivasi. Saya melihat partisipsi mahasiswa kedokteran (calon dokter) dalam bidang  sastra seperti dalam buku ini sangat menarik. Apalagi esensi yang ada dalam setiap cerita sangat bermanfaat bagi kita khususnya calon dokter dalam membenahi niat dan menuju dokter muslim.
Disini saya hanya ingin mengutip beberapa kalimat dari setiap dua puluh cerita dalam buku ini.
Untuk empat cerita pertama bertemakan:
 “Allah Memilih Jalan Ini”
1.         Mimpi Yang Dipaksakan Berbuah Kesadaran (Emy Kusmiawaty)

Sebaik-baiknya manusia adalah yang paling besar manfaatnya.
Inilah dasar ia menguatkan tekatnya  menjadi doktrer.
Dan kata-kata motivasi dari seorang ayah tercinta “yang namanya mutiara, meskipun di tempat berlumpur atau gundukan sampah, dia tetaplah mutiara. Bukan yang lain.” Seseorang yang  baik tidak selalu beradadi tempat baik. Allah juga mengirim orang orang baik di tempat yang dianggap “buruk” oleh sebahagian manusia.  Padahal, hanya  allah yang tahu baik buruknya sesuatu. Manusia terlalu subjektif memberikan penilain.
.
Kata-kata diatas mengantarkan aku kembali pada kenangan ‘pahit’ dua tahun yang lalu tentang kegagalanku masuk ke PTN dengan jurusan pendidikan dokter. Ya … cerita dia atas juga mengantarkan aku kembali pada cita-citaku dan niat awalku untuk masuk kedokteran.
Semoga di jalan ini, jalan yang mungkin dianggap buruk oleh aku sendiri dulu adalah buruk yang akan membawaku pada-Nya. Amin.

2.       Dia Ingin Saya Menjadi Dokter ? (Anggea Rachmiawaty)

“mungkin kedokteran bukan  yang saya minati, tapi juga bukan sesuatu yang saya hindari. Mungkin bagi saya ilmu kedokteran itu nice to know, bikan nice to share. Padahal jika sudah berilmu, seharusnya kita berbagi, bukan?”
Menjadi dokter adalah pilihan. Dia telah mengizinkan saya memilih. Pilihan menjadi dokter itu bukan suatu ketidak sengajaan . butuh proses di setiap menjalaninya. Pilihan kita untuk menjalani proses itulah yang akan membentuk dokter seperti apa kita kelak.
“mengapa Dia ingin saya menjadi dokter, ya ?” yakinlah, menjadi dokter adalah pilihan dan nikmat dari Allah SWT.”

3.         Dari Balik Dinding Pesantren (Pobby Karmendra)

Memaknai kehidupan di wisma memang sangat penuh warna. Tentunya ukhuwah sangat menonjol disini, begitu cerita dalam tulisannya.
“saat kau kembali ke kampusmu, berceritalah tentang apa saja yang kau lihat di sini. Meski banyak yang harus dibenahi, kami telah memulai cerita. Dari sini. Dari balik dinding pesantren”

4.         Jalan Cinta-Mu (Rafky Yunuar)

Disini di ceritakan… sebuah amanah yang menggiringnya ke jalan-nya.
“Aku sering tersenyum melihat masa laluku. Aku merasa masa itu sungguh lucu. Terjawab sudah kegaulaku, lamunanku dan kesedihan ytang merasuk bersama kedendirianku. Dakwah telah meretas kegelapanku dengan cahaya dari-nya.”
“dakwah tak sekedar memberikanku kekuatan dalam beragama tapi juga memperkuat mental dan nuraniku. Dakwah tak menghalangi kegiatan akademis. Dakwah justru memberikanku napas dan cinta yang baru. Bahkan dakwah mampu mewujudkan kesempurnaan profesi dokter yang ingin kucapai.”

 to be continued....

Rabu, 30 November 2011

Jilbab Menurut Islam, Kristen, Yahudi, Mitos dan Realita


Jilbab Menurut Islam, Kristen, Yahudi, Mitos dan Realita
Oleh : Prof. Sherif Abdel Azeem


          Marilah kita buka satu persoalan yang di negara-negara Barat dianggap sebagai simbol dari penindasan dan perbudakan wanita, yaitu jilbab atau tudung kepala. Apakah betul tidak terdapat pembahasan mengenai jilbab di dalam tradisi Jahudi-Kristen ? Mari kita lihat bukti catatan yang ada. Menurut Rabbi Dr. Menachem M. Brayer, Professor Literatur Injil pada Universitas Yeshiva dalam bukunya, The Jewish woman in Rabbinic Literature, menulis bahwa baju bagi wanita Yahudi saat bepergian keluar rumah yaitu mengenakan penutup kepala yang terkadang bahkan harus menutup hampir seluruh muka dan hanya meninggalkan sebelah mata saja. Beliau disana mengutip pernyataan beberapa Rabbi (pendeta Yahudi) kuno yang terkenal: “Bukanlah layaknya anak-anak perempuan Israel yang berjalan keluar tanpa penutup kepala” dan “Terkutuklah laki-laki yang membiarkan rambut isterinya terlihat,” dan “Wanita yang membiarkan rambutnya terbuka untuk berdandan membawa kemelaratan.”
        
         Hukum Rabbi melarang pemberian berkat dan doa kepada wanita menikah yang tidak menutup kepalanya karena rambut yang tidak tertutup dianggap “telanjang”. Dr. Brayer juga mengatakan bahwa “Selama masa Tannaitic, wanita Yahudi yang tidak menggunakan penutup kepala dianggap penghinaan terhadap kesopanannya. Jika kepalanya tidak tertutup dia bisa dikenai denda sebanyak empat ratus zuzim untuk pelanggaran tersebut.”
Dr. Brayer juga menerangkan bahwa jilbab bagi wanita Yahudi bukanlah selalu sebagai simbol dari kesopanan. Kadang-kadang, jilbab justru menyimbolkan kondisi yang membedakan status dan kemewahan yang dimiliki wanita yang mengenakannya ketimbang ukuran kesopanan. Jilbab atau tudung kepala menandakan martabat dan keagungan seorang wanita bangsawan Yahudi. Jilbab juga diartikan sebagai penjagaan terhadap hak milik suami.

           Jilbab menunjukkan suatu penghormatan dan status sosial dari seorang wanita. Seorang wanita dari golongan bawah mencoba menggunakan jilbab untuk memberikan kesan status yang lebih tinggi. Jilbab merupakan tanda kehormatan. Oleh karena itu di masyarakat Yahudi kuno, pelacur-pelacur tidak diperbolehkan menutup kepalanya. Tetapi pelacur-pelacur sering memakai penutup kepala agar mereka lebih dihormati (S.W.Schneider, 1984, hal 237). Wanita-wanita Yahudi di Eropa melanjutkan menggunakan jilbab sampai abad ke sembilan belas hingga mereka bercampur baur dengan budaya sekuler. Tekanan eksternal dari kehidupan di Eropa pada abad sembilan belas memaksa banyak dari mereka pergi keluar tanpa penutup kepala.

         Beberapa wanita Yahudi kemudian lebih cenderung menggantikan penutup tradisional mereka dengan rambut palsu sebagai bentuk lain dari penutup kepala. Dewasa ini, wanita-wanita Yahudi yang saleh tidak pernah memakai penutup kepala kecuali bila mereka mengunjungi sinagog (gereja Yahudi) (S.W.Schneider, 1984, hal. 238-239). Sementara beberapa dari mereka. seperti sekte Hasidic, masih menggunakan rambut palsu (Alexandra Wright, 19??, hal 128-129).

Bagaimanakah jilbab menurut tradisi Kristen?
Kita sendiri menyaksikan sampai hari ini bahwa para Biarawati Katolik menutup kepalanya yang suruhannya sebetulnya telah ada semenjak empat ratus tahun yang lalu. Tetapi bukan hanya itu, St. Paul (atau Paulus) dalam Perjanjian Baru, I Korintus 11:3-10, membuat pernyataan-pernyataan yang menarik tentang jilbab sebagai berikut: “Tetapi aku mau, supaya kamu mengetahui hal ini, yaitu Kepala dari tiap laki-laki adalah Kristus, kepala dari perempuan adalah laki-laki dan kepala Kristus adalah Allah. Tiap laki-laki yang berdoa atau bernubuat dengan kepala yang bertudung, menghina kepalanya. Tetapi tiap-tiap perempuan yang berdoa atau bernubuat dengan kepala yang tidak bertudung, menghina kepalanya, sebab ia sama dengan perempuan yang dicukur rambutnya. Sebab jika perempuan tidak mau menudungi kepalanya, maka haruslah ia juga mengguting rambutnya. Tetapi jika bagi perempuan adalah penghinaan, bahwa rambutnya digunting atau dicukur, maka haruslah ia menudungi kepalanya. Sebab laki-laki tidak perlu menudungi kepalanya: ia menyinarkan kemuliaan Allah. Tetapi perempuan menyinarkan kemuliaan laki-laki. Sebab laki-laki tidak berasal dari perempuan, tetapi perempuan berasal dari laki-laki. Dan laki-laki tidak diciptakan karena perempuan, tetapi perempuan dicipt akan karena laki-laki. Sebab itu, perempuan harus memakai tanda wibawa di kepalanya oleh karena malaikat”. (I Korintus 11:3-10).

        St. Paul memberikan penalaran tentang wanita yang berjilbab atau berkerudung adalah bahwa jilbab memberikan tanda kekuasaan pada laki-laki, yang merupakan gambaran kebesaran Tuhan, atas wanita yang diciptakan dari dan untuk laki-laki. St. Tertulian di dalam risalahnya “On The Veiling Of Virgins” menulis: “Wanita muda hendaklah engkau mengenakan kerudung saat berada di jalan, demikian pula hendaknya engkau mengenakan di dalam gereja, mengenakannya saat berada di antara orang asing dan mengenakannya juga saat berada di antara saudara laki-lakimu.”

              Di antara hukum-hukum Canon pada Gereja Katolik dewasa ini, ada hukum yang memerintahkan wanita menutup kepalanya di dalam gereja (Clara M Henning, 1974, hal 272). Beberapa golongan Kristen, seperti Amish dan Mennoties contohnya, mereka hingga hari ini tetap mengenakan tutup kepala. Alasan mereka mengenakan tutup kepala, seperti yang dikemukakan pemimpin gerejanya adalah: “Penutup kepala adalah simbol dari kepatuhan wanita kepada laki-laki dan Tuhan,” logika yang sama seperti yang ditulis oleh St. Paul dalam Perjanjian Baru (D. Kraybill, 1960, hal 56).

         Dari semua bukti-bukti di atas, nyata bahwa Islam bukanlah agama yang mengada-adakan dan mewajibkan penutup kepala, tetapi Islam telah mendukung hukum tersebut. Al Qur’an memerintahkan kepada laki-laki dan perempuan yang beriman untuk menahan pandangannya dan menjaga kemaluannya. Juga memerintahkan wanita beriman agar memanjangkan penutup kepalanya sampai menutupi leher dan dadanya.
“Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat….. Katakanlah kepada wanita yang beriman : “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak darinya. Dan hendaklah mereka menutup kain kerudung ke dadanya…” (An Nuur:30,31)

       Di dalam Al Qur’an jelas tertulis bahwa kerudung sangat penting untuk menutup aurat. Mengapa aurat itu penting ? Hal itu dijelaskan dalam Al Qur’an surat Al Ahzab 59: “Hai Nabi katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mu’min: Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka.” Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu.” (Al Ahzab:59)
Pada intinya, kesederhanaan digambarkan untuk melindungi wanita dari gangguan atau mudahnya, kesederhanaan adalah perlindungan.

      Jadi, tujuan utama dari jilbab atau kerudung di dalam Islam adalah perlindungan. Kerudung di dalam Islam tidak sama seperti di dalam tradisi Kristen dimana merupakan tanda bahwa martabat laki-laki berada di atas wanita dan merupakan simbolisasi tunduknya wanita terhadap laki-laki. Kerudung di dalam Islam juga bukan seperti di dalam tradisi Yahudi dimana kerudung merupakan tanda keagungan dan tanda pembeda sebagai wanita bangsawan yang menikah. Kerudung di dalam Islam hanya sebagai tanda kesederhanaan dengan tujuan melindungi wanita, tepatnya semua wanita. Pada falsafah Islam dikenali prinsip bahwa selalu lebih baik menjaga daripada menyesal kemudian. Al Qur’an sangat
memperhatikan wanita dengan menjaga tubuh mereka dan kehormatan mereka atas pernyataan laki-laki yang berani menuduh ketidaksucian seorang wanita, mereka akan mendapat balasan;
“Dan orang-orang yang menuduh wanita-wanita yang baik-baik (berbuat zina) dan mereka tidak mendatangkan empat orang saksi, maka deralah (mereka yang menuduh itu) delapan puluh kali dera, dan janganlah kamu terima kesaksian mereka buat selama-lamanya. Dan mereka itulah orang-orang yang fasik.” (QS. An Nuur 4)
Bandingkan sikap Al Qur’an yang sangat tegas, dengan hukuman yang sangat longgar bagi pemerkosa di dalam Injil:
“If a man find a damsel that is a virgin, which is not betrothed, and there was none to save her. Then the man that lay with her shall give unto the damsel’s father fifty shekels of silver, and she shall be his wife; because he hath humbled her, he may not put her away all his days” (Deut. 22:28-29).
Terjemahannya:
“Jika seorang laki-laki menemui seorang gadis yang tidak dijanjikan untuk dinikahkan kemudian memperkosanya, dia harus membayar sebesar lima puluh shekels perak kepada ayah gadis itu. Laki-laki itu harus menikahi gadis tersebut karena perbuatannya dan dia tidak boleh menceraikannya selama hidupnya” (Ulangan. 22:28-29).

           Patut ditanyakan, siapa yang sebenarnya dihukum dalam hal ini? Orang yang membayar denda karena telah memperkosa ataukah gadis yang dipaksa untuk menikah dengan laki-laki yang memperkosanya dan harus tinggal bersamanya sampai dia mati ? Pertanyaan lainnya: Mana yang lebih melindung seorang wanita sikap tegas Al Qur’an atau sikap kendor moral (lax) daripada Injil ?
      
        Beberapa kalangan, terutama di belahan negara-negara Barat, mungkin cenderung untuk menertawakan bahwa kesederhanaan (modesty) berguna untuk perlindungan. Alasan mereka adalah perlindungan yang terbaik yaitu memperluaskan pendidikan, berperilaku yang sopan, dan pengendalian diri. Kami akan mengatakan: semua itu baik tapi tidak cukup.

        Jika tindakan yang ada dipandang perlindungan yang sudah cukup, lalu mengapa wanita-wanita di Amerika Utara saat ini tidak berani berjalan sendirian di kegelapan atau bahkan cemas melewati tempat parkir yang sepi ?. Jika pendidikan adalah suatu penyelesaian lalu mengapa Universitas Queen yang terkenal pelayanan pendidikannya terpaksa harus mengantar pulang para mahasiswi di dalam kampus ?. Jika pengendalian diri adalah jawabannya, lalu mengapa kasus pelecehan sex di tempat kerja diberitakan di media masa nyaris setiap hari ?. Contohnya, yang tertuduh melakukan pelecehan sex dalam beberapa tahun terakhir: para perwira Angkatan Laut, Manager-manager,
Professor-professor, Senators, Pengadilan Tinggi (Supreme Court Justices), dan bahkan Presiden Amerika Serikat Bill Clinton sendiri !

         Saya tercengang saat saya membaca statistik yang ditulis dalam sebuah pamflet yang dikeluarkan oleh Dean of women’s office di Universitas Queen berikut :
* Di Canada, setiap 6 menit ada seorang wanita yang mengalami pelanggaran sexual.
* 1 dari 3 wanita di Canada akan mengalami pelanggaran sexual pada suatu saat dalam kehidupannya.
* 1 dari 4 wanita berada dalam resiko diperkosa atau usaha pemerkosaan dalam kehidupannya.
* 1 dari 8 wanita akan mengalami pelanggaran sexual saat menjadi mahasiswi unitersitas.
* Sebuah penelitian menemukan bahwa 60% dari mahasiswa laki-laki mengatakan mereka akan berbuat pelanggaran seksual jika mereka yakin mereka tidak ditangkap.
Ada sesuatu yang secara fundamental amat sangat keliru di masyarakat kita ini [negara Barat, penerjemah] Suatu perubahan yang radikal sangat perlu dilakukan di dalam gaya hidup dan budaya kita ini. Budaya hidup sederhana (modesty) teramat sangat dibutuhkan.Sederhana dalam berpakaian, dalam bertutur kata, dan dalam sopan santun berhubungan antara pria dan wanita. Kalau perubahan tidak dilakukan, maka angka-angka statistik yang kelabu di atas akan makin suram dari hari ke hari hingga benar-benar semuanya terjerembab dalam kegelapan. Dan sialnya, penanggung beban masyarakat yang paling berat adalah para wanita.

      Sesungguhnya kita semua menderita sebagaimana Khalil Gibran (sastrawan nasrani dari Libanon, penerjemah) pernah mengatakan: “…for the person who receives the blows is not like the one who counts them.” (Khalil Gibran, 1960, hal 56). Oleh sebab itu, sebuah masyarakat seperti Perancis yang pernah mengusir seorang gadis dari sekolahnya lantaran si gadis menampilkan kesederhaan dengan mengenakan tudung, sesungguhnya hanyalah tindakan yang mencelakakan masyarakat itu sendiri.

       Adalah sebuah ironi maha besar di dalam dunia yang kita tinggali saat ini. Secarik tudung penutup kepala mereka katakan sebagai simbol ‘kesucian’ saat dikenakan oleh seorang biarawati Katolik, padahal dalam ajaran Kristiani hal itu untuk menunjukkan kekuasaan pria. Namun apabila secarik tudung kepala tersebut dikenakan oleh seorang muslimah untuk keperluan melindungi diri, justru dituduh sebagai simbol penindasan pria atas wanita! []

Catatan Redaksi: Artikel berikut adalah salah satu bab dari buku kecil karangan Dr. Sherif Abdel Azeem, seorang professor di Queen University, Ontario, Canada. Judul bukunya (terbitan 1996) adalah Women in Islam versus Women in the Judaeo-Christian Tradition; The Myth and The Reality. Hak Cipta ada pada pengarang dimana beliau mengijinkan untuk penyalinan dan terjemahan sepanjang tidak mengurangi isinya.

Terjemahan
ke bahasa Indonesia dilakukan oleh Ria Amirul. Saat diterjemahkan, naskah asli bisa di-download dari situs http://www.stanford.edu/group/issu.
Sumber: WARITA, EDISI MILLENIUM - TAHUN KE XI, NO 2, FEBRUARI 2000

Angkot


Jilid  1

        Salah satu cerita tentang angkot favoritku adalah jilid ini. Ini kisahku di angkot jurusan gede bage-simpang dago, yang membawaku tiap pagi ke dago.
Pagi itu seperti biasa setelah fardhu subuh aku menyiapkan tas dan sarapan. Setelah sarapan dan sedikit beres-beres aku langsung meluncur keluar komplek. Dengan riang seirama dengan pagi yang cerah. Tiap pagi  aku melewati pos satpam. Dari dalam Pos tersebut selalu mengeluarkan  suara yang sudah tak asing lagi
 “pagi neng...!”
Dan aku balas dengan semangat pagi kepada bapak satpam yang mungkin umurnya sudah hampir 65 tahun itu.
“pagi pak... ”
Wah... Sempat kepikiran. Perasaan bapak ini deh yang paling semangat dari satpam-satpam yang lain. Padahal beliau yang paling senior loh... Salut dah.
Setelah berhasil keluar komplek dan mataku mulai bersiap-siap mencari si pink simpang dago. Sett.. Akhirnya ada...
Penumpangnya belum penuh, “biasanya penuh tumben biasanya jam segini udah penuh”. 06.30.
Perjalanan kali menuju simpang dago biasanya memakan waktu satu jam-an. Sebenarnya bisa di tempuh dengan seperempat dari waktu tadi, kalau tidak macet. Huft.. “Kota besar... Nampaknya bandung sebentar lagi udah kaya jakarta nih,” celotehku dalam hati.
 Karena takut ngantuk aku membaca buku. Tapi kali ini aku terkalahkan oleh kantuk pada setengah perjalanan menuju terget . Maklum tak tidur semalaman karena begadang. Dan beruntungnya aku dapat posisi weenaak. Paling pojok.
 “neng mau kemana”, sopir angkot. Suara itu membangunkanku dari tidur... “bah aku ketiuran”. Sedikit panik dan melihat ke jendela “ pasir impun mang” jawabku cepat dan pasti.
Nah lo... Kok balik pulang?
Sopir angkot pun bingung, ni neng kok minta balik. Trus aku liat lagi ke jendela. “astagfirullah ini sudah di dayang sumbi (sembilan per sepuluh perjalanan) ” dalam hati
“hm...punten mang... Simpang dago ” kataku sambil nyengir. Si mang  cuma bisa senyum melihat jawaban kagetku tadi.
Akhirnya dengan keamanahan si mamang aku sampai di simpang dago. Biasanya angkotnya muter di dayang sumbi alasannya macet, padahal dikit lagi. Harusnya angkotnya ganti nama aja gede bage- dayang sumbi atau gede bage- boromeus,  karena menurunkan penumpang tujuh persepuluh dari perjalanan. Hehehe ini sedikit curhat.
Hm.. Pelajaran moral pada hari itu adalah jangan terlalu memaksakan diri,otak juga butuh  isitirahat. Kalau nga jadi ngehenk kaya tadi ngomongnya nglantur hehe...
Dan harus tetap semangat dan bertanggungjawab menjalani takdir yang diberikan Allah kepada kita. Ikhlas red. Hehe
Sekian dulu ya....
See u at the next trip J



Angkot


Entah mengapa transportasi umum yang satu ini mempunyai tempat khusus di hatiku. Berawal dari beberapa accident kecil aku memutuskan tak sudi naik angkot. Ini karena aku terserang alergi DBD (Debu BBM Dingin).
Hamdalah seiring berjalannya waktu dan keadaan yang memaksa akhirnya alergi terhadap BBM bisa tersembuhkan :D. Ini bukan apa-apa, bukan mau sombong atau apa... Aku selalu pusing setelang mencium bau BBM.
Nah.. Salah satu ceritanya. Waktu itu aku masih duduk di bangku kelas 7 Mts. Kebetulan pagi itu papa ngak bisa mengantarku pergi sekolah. Alhasil terpaksa naik angkot. Dan itu harus transit kalau dari rumahku ke sekolah... Aku mulai cemas ... Karena baru pertama kali naik angkot. Tiap satu menit aku menoleh ke arah tangan kiriku “duwh.. Udah telat ga sih..” Padahal itu baru pukul 06.55 .. Masih 35 menit lagi bel akan berbunyi. Setelah turun angkot dan mau transit ke angkot yg akan membawaku ke madrasah, aku malah celingak celinguk kanan kiri “mana ya angkotnya...?!” Huft akhirnya aku mendengar teriakan seorang pria “terminal...terminal...!”
“ini dia..” Ohh ternyata si angkot membutuhkan 1 penumpang lagi. Aku beruntung. Setelah dapat tempat duduk terakhir,dekat pintu. Itu cuklup membuatku sedikit shocking soda hehehe... Maklum dengan pengalaman pertama si sopir dah bawa angkot ngebut. 15 menit akhirnya aku tiba di madrasah... “hamdalah... Akhirnya” setelah bayar ongkos aku berlari menuju gerbang dan langsung menuju kelas. Setelah duduk di kursiku untuk menenangkan diri yang sedikit pusing dan mungkin masuk angin karena duduk dekat pintu tadi. Lima menit kemudian bu rahmah masuk. Memberi aba-aba agar kami siap-siap untuk ujian. Kondisiku sudah tak seprima waktu keluar dari rumah. Kepalaku pusing dan sesekali bersin. “astagfirullah ya allah apa lagi ini...” Setelah ujian berahkir aku hanya berdiam diri, karena kesal kenapa harus begini. Ujianku kurang maksimal, karena konsentrasiku pecah, harus terbagi pada bersin,pusing,dan jawaban. Sejak saat itu aku enggan untuk naik angkot. Aku lebih memilih jalan kaki atau bersepeda kalau berpergian.

Selasa, 16 November 2010

cerpen p1 ku ;)



CERPEN
AMI









 





AMI

“Ini sungguh menyiksaku. Apakah  ini azab?” lirih Ami
Sudah beberapa bulan ini Rina memperhatikan Ami kelihatan gusar dan sering menyendiri. Sesuatu telah terjadi padanya. Nampaknya ia dalam sebuah dilema yang besar. Tapi sahabatnya itu nampaknya tak mau berbagi dengannya.

***

“Ami ayo sarapan nanti terlambat ke sekolah” terdengar suara seorang Ibu
“Ya Bu tunggu sebentar ” sahut Ami. Sambil memasukkan buku-bukunya kedalam tas.
Setelah sampai di meja makan Ami langsung memakan sarapan yang telah disiapkan Ibunya.
“Bu, mana ayah? lembur lagi?”
            “Mungkin mi, tapi Ayah tidak ada memberitahu Ibu, tidak biasanya Ayah seperti ini” jawab Ibu cemas
            Udah coba telepon Bu?
            Udah, tapi hpnya tidak aktif,
“Ah... udah jam tujuh kurang seperempat, gawat bisa telat nich....”
“Ya udah Bu, Ami berangkat dulu Assalamualaikum”
Setelah berpamitan, aku langsung berlari menuju  halte. Dan menumpangi bus yang membawaku ke sekolah. Di tengah perjalan menuju sekolah yang memakan waktu sekitar 15 menit, aku habiskan dengan membaca buku pelajaran. Sejak kecil, impianku adalah menjadi seorang yang pintar. Dan mulai Aku duduk di sekolah dasar keinginan itu semakin kuat. Hal itu terjadi mungkin karena tuntutan persaingan yang ketat, dorongan dari kedua orang tuaku. Oleh karena itu, Aku berusaha belajar dengan sungguh-sungguh.
                                                            ***
            Hari itu hari sabtu, hari ekskul di sekolahku. Dan adalah hari pertama ekskul setelah vocation. Di sekolahku setiap siswa wajib mengikuti paling kurang satu ekstrakurikuler. Aku mengikuti pelatihan olimpiade biologi dan ICT forum. Aku memilih itu karena aku paling suka pelajaran biologi, dan berhubung aku ingin menjadi dokter.
Setelah  dua jam berlalu, akhirnya Aku keluar dari kelas biologi. Aku langsung  menuju kantin. 
            ”Aduh...duuuh, sulit juga ternyata memahami materi mutasi, aku kira itu Cuma hapalan doank.”
            Di tengah perjalanan menuju kantin aku melihat Febby teman SMPku dulu sedang bergandeng mesrah dengan seorang cowok. Aku heran mengapa Febby seperti itu, padahal dulu ia anak yang alim. “Ah... aku tak mau tahu, lagian itukan bukan urusanku.”
Setelah makan di kantin aku langsung menuju ruang ICT. tiba-tiba aku mendengar seseorang memanggilku. Ternyata Ridwan, dia adalah salah satu member ICT forum SMA Wira Bakti.
“ Eh... ternyata kamu masih ikut forum mi?”
“ Ya  dong, masa ngak, aku kan suka banget yang namanya IT”
“ Yeah..., oh ya mi kamu udah tau ngak kalau materi pertemuan kali ini tentang web design?”
“Oh yang benar?, berarti semua pertanyaanku tentang cara-cara mendisign web akan terjawab ntar. Hm... keren!” cetusku girang.
Setelah memasuki kelas, yang kali ini sebagai pemateri adalah Pak Hendra guru TIKku. Sebelum materi dimulai, Pak Hendra yang terkenal sebagai guru yang supel meminta siswa untuk memperkenalkan diri. Ternyata peserta forum kebanyakan masih peserta lama, hanya ada satu orang yang tak ku kenal. Seorang cowok tinggi kurus yang duduk di ujung, tatapannya tajam dan teduh. Sekarang tiba giliran cowok yang duduk di ujung itu.
“Nama saya Irfan Prasetio. Teman-teman bisa panggil saya dengan Irfan aja.”
“Eh mi...kamu dah tau ngak kalau dia tu anak pindahan”, kata Ridwan
“Ngak tu...”  jawab Ami
Setelah memperkenalkan diri barulah Bapak memberikan materi tentang web design. Dan ternyata materi ini memang sangat menarik bagi siswa. Setelah dua jam berlalu forum pun ditutup dan akan dilanjutkan Sabtu depan.
“Wah, keren materi kali ini memang menarik”, kata Ridwan
“Iya akhirnya semua pertanyaanku terjawab”, kata Ami
“Ami... ami!”
Terdengar suara Dian memanggilku. Aku langsung pergi meninggalkan ruang ICT. Kami berjalan sambil ngobrol menuju mesjid karena waktu itu sang raja siang sudah tepat di atas. Rina adalah teman sekelasku,kami satu meja. Ia  aktif dalam rohis. Rina adalah  ketua annisa’ SMA Wira Bakti.
“Ami kamu ngak jadi ikut Rohis ?”
“Sekarang kami ada forum yang temanya VMJ loh”
“VMJ?”
Ya itu “Virus Merah Jambu”
“Wah menarik tuh, ya dech Rin, setelah aku pikir-pikir kita juga harus menyeimbangkan antara dunia dan akhirat. Lagian setelah aku tamat SMP aku jarang mendapat santapan qalbu.”
”Nah, gitu donk, itu baru ami temanku.”
Sejak saat itu Aku lebih dekat dengan Tuhan. Aku mulai ikut aktivitas dakwah di sekolah. Di sana Aku mendapatkan sebuah titik terang tentang konsep pacaran. Yang mana ini tidak dibenarkan dalam islam. Islam sangat memuliakan kaum perempuan. Perempuan ibarat berlian yang harus dijaga dan dilindungi dengan sebaik-baiknya. Semakin baik cara merawatnya semakin tinggi nilai berlian tersebut. Akhirnya Aku sadar bahwa pikiran-pikiranku selama ini tentang pacaran  adalah cara Allah melindungiku dari gemerlap modernisasi. Terkadang manusia butuh waktu lama untuk memahami kebaikan yang dialami dalam hidupnya.
***
Ketika sang surya berjalan menuju titik puncak teriknnya. Saat itu Aku sedang mempersiapkan presentasi untuk lomba desing web yang akan diadakan Sabtu depan.  Tiba-tiba aku terkejut dengan suara pecahan kaca. Dan setelah kulihat ternyata sebuah gelas pecah di banting oleh Ibuku. Aku melihat Ibu menangis dan tiba-tiba Ayah pergi. Sejak saat itulah Aku tidak pernah bertemu dengan Ayah lagi.Sejak saat itu Aku membenci Ayah. kebencian yang mendalam karena penderitaan Ibu yang dikhianati. Akhirnya  membuatku menjadi benci kepada laki-laki. Inilah yang kemudian menjadi pondasi kuat komitmenku untuk tidak pacaran.
 Perceraian orang tuaku membutku hancur berkeping-keping, susah bagiku untuk menata hatiku kembali. Hanya satu yang membuatku semangat dalam gerimis hatiku dia adalah Ibuku sumber inspirasiku. Dialah semangatku, dialah ujung tombak juangku. Hanya itu yang membuatku bertahan.
***
Pagi itu ketika aku belajar matematika, ada seseorang yang mengetuk pintu. Lalu Ibu Dian guru matematikaku keluar dan kemudian aku terkejut ketiak Ibu dian memanggilku.
“Ya bu ada apa?”
 Kamu sekarang diminta Pak Hendra Kusuma segera ke Ruang ICT.
Lalu aku segera meninggalkan kelas. Dan  menuju ruang ICT. Setelah tiba disana aku disuruh Pak Hendra masuk. Ternyata disana ada Irfan juga.
“ Asslammualaikum Pak”,  sapaku
“ Walakum sallam”
 Bapak punya berita bagus, hasil design kamu dan Irfan ternyata lulus final”
“Bener pak?”, jawabku dengan mata berkaca-kaca. Aku tak percaya bahwa hasil karyaku bisa lulus final apalagi itukan tingkat provinsi.
“Kalian punya waktu seminggu untuk persiapan, apakah itu memperbaiki disign atau presentasinya nanti. Dan Bapak akan membantu kalian, kalian bisa datang ke sesini setelah pulang sekolah.”
“Ya pak terimakasih”, jawab mereka serentak
Setelah itu aku meninggalkan ruangan itu. Lalu Irfan memanggilku
“Ami... e.. hm... selamat ya”
“Kamu juga fan”
Oh ya waktu kita pertama kali forum  aku menemukan pena ini
Ia menunjukkan sebuah pena berwarna biru dan bertutup ukiran warna emas padaku. Mataku terbelalak melihatnya, itu adalah pena pemberian ayahku ketika ia tugas ke Swiss.
“Ini pasti punya kamu disini terukir Utami Wijoyo.”
“Iya, terimakasih banyak Fan, padahal waktu itu aku sampai menangis semalaman karena pena itu hilang, pena itu amat berarti bagiku”
“Oh ya, kalau begitu aku minta maaf aku terlambat memberikannya padamu, karena aku kesulitan untuk menemui kamu”.
“Ngak pa pa kok Fan, malah aku berterimakasih kamu udah nemuin pena itu”.  
“Kenapa sih pena itu sangat berarti buat kamu mi?”
Akupun menceritakan asal usul pena tersebut padanya.
            Seminggu penuh aku mencurahkan pikiran dan konsentrasiku untuk lomba tersebut. Sebagai team work Irfan selalu membantuku.
Perlombaan pun telah selesai. Alhamdulillah aku mendapat juara dua, sedangkan Irfan mendapat juara satu.
Hal itu membuatku bertambah kagum kepadanya. Kejadian itu membuat kami akrab. Apalagi kami menjadi team work dalam mempersiapkan lomba. Keakraban itu membuatku merasa menemukan bagian lain dalam hidupku. Irfan anak yang baik dan sopan walaupun ia tampak calm namun ia bisa menjadi teman yang menyenangkan. Kami saling berbagi cerita satu sama lain tentang masalah masing-masing. Akhirnya aku tahu dia juga berasal dari keluarga brokenhome. Aku kagum padanya ia begitu tegar dalam menghadapi hidup. Karena Irfan aku sadar bahwa hidup itu pilihan. Apakah kita memilih untuk terus bersedih atau bahagia.
 ***
Bunyi  desir angin menyapa ilalang dan menerbangkan bunga-bunga yang lemah. Selalu disini, hanya disini aku mengapungkan semua masalahku dan berharap semuanya terbang dan berlalu. Seperti bunga-bunga itu.
Apa yang harus aku lakukan? Selama ini Irfan selalu baik padaku. Selalu menemaniku. Aku dapat tegar karena dia ada disampingku. 
Suara gemerisik kaki menyadarkanku.
“Hai!”
            Aku terpaku dia didepanku. Kami membisu, hanya ilalang yang setia menyapa. Keheningan ini menyesakkan dan menyakitkan. Irfan menatapku dan dia tahu aku menolak tatapannya. Dan Aku menyainkan diri untuk untuk menghentikan keheningan ini.
            Tiba-tiba ponselku berdering. “Papa?  Ah peduli amat!” kubiarkan saja ia terus berdering.
            Tanpaknya Irfan memperhatikanku. Dia tahu aku sengaja tidak mengangkat telphon itu. Dan aku yakin dia juga tahu dari siapa telepon itu.
            Sampai ponsel itu berhenti berdering aku masih tetap membisu dan Irfan menemaniku dalam diam.
            aku mulai bicara untuk memecah keheningan.
“ Tadi papa datang kesekolah, Aku ngak bisa maafin Dia. Dia telah nyakitin Ibu.
Fan apakah Aku harus maafi Dia ?”
Irfan hanya diam dia tak menjawab pertanyaanku. Ia hanya menatapku. Mata itu...
Mata yang selalu meneduhkanku.
“ Mi, Tuhan saja yang menciptakan manusia mau menerima tobat, kenapa kita sesama manusia ngak bisa untuk memaafkan?” ucap Irfan sambil tersenyum tipis.
Mendengar itu aku merasa sedikit sakit dan malu, malu kepada Tuhan kenapa kau begitu sombong.
Irfan menatapku dengan mata itu, tatapan itu kini jauh lebih lembut. Bagai angin yang membawa serpihan masalahku pergi. Tiba-tiba ia menatap langit. “Aku akan berusaha untuk mengobati luka hatimu.” Dan ia menunduk
“Aku sayang sama kamu, Mi....?”
Aku terkejut mendengar kata-kata yang keluar dari mulutnya. Aku  tetap diam, dan tidak tahu harus berbuat apa. Bahkan untuk bergerkpun aku tak mampu.
“Aku menunggu kamu membuka pintu hati yang selama ini kamu tutup.... tapi kayaknya percuma ”  Irfan kini terdiam.
Perlahan aku mendongak. Untuk pertama kalinya, aku menatap mata Irfan. Mata itu begitu lembut. Aku merasakan dadaku sesak.
“ Astagfirullahalazim!Aku telah berdosa, tidak sepantasnya kau begini” dalam hatiku
Kemelut dalam hatiku tak dapat Ku bendung. Aku berusaha berlari jauh meninggalkan Irfan untuk menghentikan kekacauan hatiku. Lalu aku meninggalkan tempat itu dengan berlari tanpa menoleh kebelakang. Aku tak peduli apa pikiran Irfan padaku saat itu.
***
            Sejak pernyataan Irfan kepadaku tempo hari, hari-hariku penuh dengan konflik dalam batinku. Aku sadar bahwa selama ini aku telah melampaui hijabku sebagai perempuan. Dan yang paling menghinakan adalah ketika Aku mulai merasakan bahwa hatiku merasa simpatik padanya. Orang yang aku rasa telah berhasil mengubah persepsiku tentang laki-laki. Dan karena itu Aku merasa sekeping hatiku telah ditemukan. Sekeping  hati yang selama ini masih kunantikan.
Sejak kejadian itu Irfan tampaknya agak sedikit menghindar dariku, ia mersa bersalah padaku. Walaupun aku telah mengatakan padanya bahwa ia tidak bersalah. Tapi sikapku masih seperti yang dulu padanya. akhirnya Dia pun tak mempermasalahkan hal itu, karena ia bisa menerima alasanku.
Tapi aku merasa membohongi diriku tentang jawabanku atas pertanyaannya waktu itu. Memang tak ada pengakuan ataupun kata-kata yang pernah terucap.
 Semua itu masih terhalang oleh rasa malu yang membelengguku. Rasa malu yang tersisa dari keimananku.
            Rasa ini kadang melemah yang membuat rasa asing itu menguat dan hampir menanggalkan rasa maluku. Datang dan mengakui perasaanku padanya. Mengakui perasaan yang selama ini menyiksaku.
“Ini sungguh menyiksaku. Apakah  ini azab?” lirih Ami
            Ketika Aku sadar bahwa itu tak halal bagiku Aku pun tersungkur, sujud dan menangis kepada Nya, mengapa ia mengizinkanku merasakan semua ini. Dalam setiap do’a ku. Aku selalu memohon rasa itu hilang. Aku malu dan menyesal sebuah ketidak berdayaanku dalam menghadapi kelemahan hati. Aku merasa semuanya menjadi bumerang.
            Hari-hari ku lalui untuk berjuang menata perasaanku. Berusaha menyimpan  rasa itu dan berusaha agar ia tidak menjadi sebuah pengakuan. Aku berharap semoga semua ini hanya tinggal tak berbekas. “Biarlah semuanya menjadi kepingan waktu yang terlupakan”, itulah statusku di facebook malam itu.
                                                            ***
            Setahun telah berlalu, sekarang Aku tinggal bersama Ibuku di Bandung. Hari-hari kulalui dengan senyuman dan keikhlasan. Satu tahun pula aku telah meninggalkan kota Jakarta. Mendadak waktu itu Ibu mengurus kepindahanku. Padahal lima bulan lagi aku ujian nasional.Dan akhirnya Aku duduk di bangku kuliah. Setelah perjuanganku Aku bisa lulus di fakultas yang ku inginkan. Seperti apa yang diharapkan Ibuku, anaknya bisa menjadi seorang dokter.
Walaupun setahun adalah waktu yang panjang tapi itu ternyata tak cukup untuk membasmi tuntas rasa aneh itu dari hatiku. Aku selalu menghibur diriku, bahwa dengan jarak yang memisahkan, maka rasa itu akan pupus. Ternyata melupakan tidaklah semudah yang ku pikirkan. Setan memang hebat memainkan perannya. Kebetulan aku melihat Irfan berjalan di depanku selepas salat Ashar di sebuah mesjid di kampus. Ia begitu terlihat berbeda dari yang dulu. cahaya wajahnya begitu jauh lebih terang dan bersih. Ia tampak akrab dengan para ikwan Islami senter. Senyumnya masih seperti yang dulu, senyum yang dirangkai dengan gigi yang tertata indah.  Aku pun menyimpan sebuah harapan hampa tentang dirinya. Apakah ia akan menjadi sosok yang dinanti. Entahlah....
            Diatas segala cinta hanya kecintaan kepada Allah, Rasul, Islam, dan Ibulah yang utama bagiku. Itulah yang menguatkanku menghapus rasa itu di hatiku. Semoga ia tak menjadi merah jambu lagi. “Semuanya itu tak pantas digantikan hanya dengan sesuatu yang bermula dari kelemahan hati”, tegasku
Chayo! Hamasah! Ihris !     
KARYA MASYITHAH
                  KELAS XII.IPA.SBI